Berdiri Megah Di Hong Kong, Ini 5 Fakta Lippo Centre Milik Keluarga Riady

Keluarga Riady emang terkenal tajir. Gak heran kalau nama Mochtar Riady dan keluarga selalu masuk jajaran orang terkaya versi majalah Forbes. Berkat Lippo Group yang dirintisnya, Keluarga Riady bahkan bisa memiliki gedung di Hong Kong yang diberi nama Lippo Centre.

Hebatnya lagi, gedung Lippo Centre yang berdiri dengan megahnya di kawasan pusat bisnis Admiralty ini menjadi landmark di sana. Pastinya, keberadaan gedung ini cukup populer di Hong Kong.

Lagian bukan Lippo namanya kalau gak bisa memiliki banyak properti. Seperti yang kamu tahu, bisnis Mochtar Riady kian moncer sejak terjun ke bisnis properti. Lippo yang dirintisnya kemudian menjelma jadi raksasa bisnis sejak pembangunan sana-sini.

Bahkan, Lippo Group mengklaim dirinya sebagai perusahaan properti terbesar dari segi pendapatan dan aset. Salah satu bisnis propertinya yang paling terkenal adalah Lippo Karawaci yang mengubah kawasan Karawaci di Kota Tangerang menjadi kawasan elite.

Lalu, gimana dengan Lippo Centre? Seperti apa ceritanya Lippo Group bisa punya gedung megah di Hong Kong? Berikut ini fakta-faktanya seperti yang dikutip dari WikiArquitectura.

Baca juga: Mengenal John Riady, CEO Baru Lippo Karawaci yang Doyan Naik Ojol!

1. Selesai dibangun tahun 1988 dengan habiskan dana US$ 58 juta

Selesai dibangun tahun 1988. (Shutterstock)

Sejarahnya nih gedung Lippo Centre mulai dibangun tahun 1986 di areal seluas 121 ribu meter persegi. Pengerjaannya baru selesai tahun 1988. Modal yang digelontorkan sebagai dana pembangunannya mencapai US$ 58 juta atau setara Rp 819 miliar saat ini.

Gedung yang berlokasi di 89 Queensway, Admiralty, Hong Kong ini terdiri dari dua tower dengan ketinggian yang berbeda-beda. Tower I dibangun dengan ketinggian 172 meter dan Tower II dibangun dengan ketinggian 186 meter.

Baca juga: Wow, Gara-Gara Meikarta Untung Lippo Cikarang Meroket 503 Persen

2. Awalnya bernama Bond Centre, bukan Lippo Centre

Sebelum bernama Lippo Centre seperti sekarang, gedung ini awalnya bernama Bond Centre. Alan Bond, pengusaha asal Australia, adalah orang yang membangun gedung ini.

Dalam perjalanannya, Bond Centre pun dijual Alan Bond ke Lippo Group tahun 1988. Gak diketahui berapa nilai penjualan gedung perkantoran tersebut.

Namun, gak kalah menarik nih, Alan Bond yang membangun Bond Corporation dinyatakan bangkrut pada tahun 1992. Ia terlilit utang pribadi sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 19,26 triliun.

Baca juga: Begini Nasib Saham 8 Anak Perusahaan Lippo Usai Kasus Meikarta

3. Diarsiteki Paul Rudolph dan mengusung gaya brutalisme

Mengusung gaya brutalisme. (Shutterstock)

Gedung Lippo Centre gak dirancang seperti gedung pada umumnya. Rancangannya sendiri adalah hasil karya Paul Rudolph, seorang arsitek asal Amerika Serikat.

Paul Rudolph yang saat itu juga bekerja sebagai konsultan desain di Wong & Ouyang menawarkan gaya arsitektur Brutalisme. Menariknya, gaya yang berkembang tahun 1950-an hingga 1970-an ini pernah dicap sebagai gaya arsitektur yang merusak pemandangan.

Walaupun begitu, penggunaan gaya arsitektur ini kemudian populer dan masih dipakai hingga saat ini. Nah, konsep yang ditawarkan Paul Rudolph pada akhirnya disetujui.

Ciri brutalisme yang paling tampak pada gedung Lippo Centre adalah tinggi bangunannya yang gak simetris. Hasilnya, Tower I memiliki 44 lantai dan Tower II memiliki 48 lantai.

Terus kedua tower tersebut gak berbentuk persegi empat, tetapi segi delapan. Polanya sendiri di satu sisi ada yang menonjol ke luar dan ada yang menjorok mendalam seolah-olah menggambarkan pola tiga dimensi. Benar-benar memberi kesan modern deh pokoknya.

4. Menjadi kantor pusat Lippo Limited di Hong Kong

Mochtar Riady dan anak-anaknya. (Nikkei.com)

Gedung Lippo Center diketahui menjadi kantor pusat dari Lippo Limited. Perusahaan yang dibangun Mochtar Riady pada 30 Januari 1973 ini menempati lantai di Tower I.

Lippo Limited merupakan perusahaan yang bergerak di sektor properti dan keuangan. Perusahaan yang mulanya Public Finance (H.K.) Limited ini telah dicatatkan di bursa efek Hong Kong, HKE dengan kode 226.

Dalam profil perusahaan yang tercatat di website HKE, Lippo Limited bergerak di sejumlah segmen bisnis, mulai dari investasi properti, pengembangan properti, investasi tresuri, investasi efek, keuangan korporasi dan pialang sekuritas, perbankan, makanan, hingga mineral.

Lippo Limited mempunyai dua anak perusahaan, yaitu Hongkong Chinese Limited dan Lippo China Resources. Sampai saat ini kepemimpinan Lippo Limited berada di tangan Stephen Riady, saudara kandung James Riady.

5. Sebagai bangunan komersial, Lippo Centre dikategorikan gedung Grade A di kawasan Admiralty

Kawasan bisnis Hongkong. (Shutterstock)

Lippo Centre, seperti yang diungkap di website-nya, merupakan bangunan komersial yang menawarkan pemandangan laut dari atas gedung. Udah gitu, gedung pencakar langit ini dikategorikan sebagai gedung Grade A lho.

Itu berarti Lippo Centre termasuk golongan bangunan dengan konstruksi dan infrastruktur yang sangat baik. Keunggulan lainnya adalah, gedung Grade A juga memiliki akses yang baik dan dikelola secara profesional.

Gak heran kalau harga sewa yang ditetapkan gedung Grade A bisa begitu tinggi. Sebagai informasi, Tower I gedung ini menjadi kantor dari Taipei Economic and Cultural Office dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) lho.

Nah, itu tadi beberapa fakta mengenai gedung Lippo Centre yang dimiliki Keluarga Riady sekaligus kantor pusat Lippo Limited. Gak disangka ya, ternyata selain punya banyak gedung di Jakarta, Lippo juga punya gedung di Hong Kong. Mantap deh! (Editor: Ruben Setiawan)