Bukan Cuma soal Kesehatan, Polusi Juga Mengancam Perekonomian Jakarta

Polusi udara udah menjadi momok yang paling menakutkan bagi warga dunia. Bagaimana tidak, kesehatan manusia yang menjadi taruhannya bahkan soal perekonomian sebuah negara juga berdampak gak baik nih.

Pada kenyataannya polusi sendiri disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti kegiatan pabrik lalu asap kendaraan bermotor. Kondisi ini semakin diperparah dengan menipisnya lahan hijau. 

Lahan hijau yang tugasnya menyerap karbon dioksida justru ditebang buat kepentingan properti. Alhasil, karbon gak dapat terserap dengan baik dan mencemari udara buat waktu yang cukup lama.

Di Indonesia sendiri permasalahan ini tengah menjadi isu yang hangat. Karena polusi udara terparah justru terjadi di Ibu Kota Jakarta, yang memiliki tugas penting menopang perekonomian jutaan manusia. Bahkan beberapa hari belakangan,udara Jakarta paling gak sehat sedunia. 

Baca juga: Ini 5 Negara Terkaya di Dunia, Upah Minimumnya Ada yang Rp 29 Juta!

Kondisi udara di Jakarta tidak sehat dan berbahaya 

polusi udara
Begini nih kadar buruknya polusi di Ibu Kota Jakarta yang gak baik buat kesehatan dan perekonomian, (AirVisual).

Untuk mengukur kualitas udara, indeks yang biasa digunakan dan diakui seluruh dunia adalah US Air Quality Index (AQI). Rentang nilai AQI mulai dari 0 sampai paling tinggi 500. Semakin tinggi tentunya semakin tidak sehat buat manusia. 

Kualitas udara baik (hijau) berkisar dari 0-50, sedang (kuning) 50-101, 101-105 terhitung gak sehat bagi orang-orang sensitif (oranye), 151-200 tidak sehat untuk semua orang (merah), 201-300 sangat tidak sehat (ungu), 301-500 sangat tidak sehat (merah tua). 

Dan ternyata, kondisi udara di Jakarta, bahkan di hari Minggu (28/6) yang notabenenya terhitung lebih sepi pengguna kendaraannya, nilai AQI berada di angka 183 atau tidak sehat untuk semua orang.

Sementara buat menghitung partikel berbahaya yang berkeliaran di udara bisa menggunakan ukuran PM2.5. PM2.5 buat mengukur partikel yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron, seperti asap kendaraan, asap pabrik, dan asap rokok. Normalnya, PM2.5 per harinya gak boleh lebih dari 25 ug/m3, tapi di hari Minggu mencapai 188 ug/m3 yang artinya berbahaya. 

Baca juga: Salah Satunya dari Indonesia, Ini 8 Orang Paling Dermawan di Dunia yang Menyumbang Hartanya

Jakarta lebih parah dari kota terpolusi di dunia yaitu Beijing dan New Delhi 

polusi udara
Jakarta ternyata menduduki posisi pertama negara dengan polusi udara terjelek, (Ilustrasi/Shutterstock).

Kalau dibandingkan dengan kota-kota di dunia yang terkenal polusinya, seperti Beijing, Tiongkok dan New Delhi, India, Jakarta berada di atas mereka. 

Beijing pada Minggu (28/6) nilai AQI berada di angka 161 yang artinya masuk ke dalam kategori tidak sehat untuk semua orang dengan PM2.5 di angka 75 ug/m3 atau sangat tidak sehat. 

Sementara AQI New Delhi berada di angka 66 yang masuk kategori sedang atau masih aman demi kesehatan, sementara PM2.5 menunjukkan angka 19,2  ug/m3

Baca juga: Hati-Hati, Pencurian Data Konsumen Makin Marak

Ancaman produktivitas industri menurun dan beban biaya jaminan kesehatan meningkat 

polusi udara
Ancaman produktivitas industri menurun dan beban biaya jaminan kesehatan meningkat, (Ilustrasi/Shutterstock).

Selama ini mungkin kita tahunya bahwa polusi membahayakan bagi kesehatan, mulai dari penyakit paru-paru, jantung, hingga kasus kelahiran prematur.  Tapi, dampak kesehatan tersebut ternyata juga bisa berpengaruh ke dampak perekonomian. 

OECD, organisasi internasional yang mengurus tentang kerja sama dan pembangunan ekonomi pernah melakukan kajian pada tahun 2016 silam tentang dampak ekonomi dari polusi udara. Mereka menilai dampak kesehatan bakal menyebabkan kelesuan industri dan pertanian. Bagaimana bisa?

Bahaya kesehatan akibat polusi bisa terjadi kepada siapa saja, tapi yang berpotensi paling terkena dampaknya adalah mereka yang bekerja di tempat yang terpapar langsung oleh sumber polusi, misal, seperti pekerja pabrik, dan petani yang setiap hari menghirup udara kotor. Ketika mereka terpapar bahkan hingga terjangkit penyakit parah, produktivitas kerjanya suatu saat akan menurun secara drastis. 

Hal itu tentu juga berdampak langsung terhadap keberlangsungan industri, mulai dari penurunan jumlah produksi, sampai penurunan kualitas produk.

Peningkatan penderita penyakit akibat polusi ini kemudian juga berdampak terhadap biaya jaminan kesehatan. Pemilik modal atau pemerintah yang bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat harus menanggung beban pengobatan yang lebih besar. 

Berdasarkan data OECD, biaya kesehatan secara global akibat polusi pada tahun 2015 mencapai US$ 21 miliar. Jika permasalahan polusi tidak segera ditangani, beban biaya itu akan meningkat menjadi US$ 176 miliar di tahun 2060. 

Tapi, masalah polusi udara ini sebenarnya masalah kita bersama. Kita bisa kok mencegah dampak terburuk tersebut dengan merubah gaya hidup. Bisa dimulai dengan melakukan hal-hal kecil misal menanam pohon di halaman rumah, tidak merokok di tempat umum dan menggunakan kendaraan umum saat hendak bekerja. Dari hal-hal kecil itu, bisa memberikan kontribusi besar bagi keberlangsungan lingkungan khususnya kesehatan udara. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)