Harganya Sejak IPO Terus Naik, Seberapa Kinclongkah Performa Saham Kimia Farma?

Bicara soal saham, cukup banyak Badan Usaha Milik Negara alias BUMN yang saham-sahamnya bebas dibeli siapa saja. Salah satunya, saham Kimia Farma yang tahun 2001 tercatat di Bursa Efek Indonesia.

PT Kimia Farma (Persero), Tbk. merupakan perusahaan negara yang fokus menjual obat-obatan. Sebagian besar obat yang diproduksi Kimia Farma digunakan sebagai obat generik yang kebanyakan diminum pasien-pasien BPJS Kesehatan.

Kalau menilik sejarahnya, Kimia Farma termasuk perusahaan farmasi tertua di Indonesia. Pasalnya, perusahaan ini berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu tahun 1817. Itu berarti Kimia Farma telah ada sejak zaman Hindia Belanda.

Indonesia merdeka dan Kimia Farma pun dinasionalisasi. Peleburan bersama perusahaan-perusahaan farmasi lainnya kemudian mengubah namanya dari NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. menjadi Perusahaan Negara Farmasi Bhinneka Kimia Farma.

Namanya kemudian berubah lagi pada 16 Agustus 1971 menjadi PT Kimia Farma (Persero). Gak cuma namanya yang berubah, status badan hukumnya pun juga berubah menjadi perseroan terbatas atau persero.

Sejauh ini Kimia Farma gak terbatas memproduksi obat-obatan saja. BUMN ini juga mengembangkan bisnis apotik, dan distribusi obat-obatan. Tentu saja pendapatan yang diperoleh Kimia Farma terbilang besar.

Sekadar diketahui, pertumbuhan pendapatan perusahaan memengaruhi performa saham perusahaan itu sendiri.

Kalau begitu, seberapa bagus performa saham Kimia Farma belakangan ini? Untuk menjawabnya, yuk ikuti ulasan berikut ini:

1. Berstatus Tbk. sejak 2001, harga saham Kimia Farma terus beranjak naik

Berstatus Tbk. sejak 2001, harga saham Kimia Farma terus beranjak naik

Saham Kimia Farma mulai bisa dimiliki publik sejak IPO pada tanggal 4 Juli 2001. Saat itu harga saham yang berkode KAEF ini dijual Rp 200 per lembarnya.

Namun, awal-awal pergerakan harga saham KAEF kurang begitu memuaskan. Saham ini bertengger di kisaran kurang dari Rp 200 per lembar hingga tahun 2010.

Harganya mulai menanjak memasuki tahun 2011. Pergerakan harganya terus naik sampai akhirnya menyentuh angka Rp 3.700 pada April 2019.

Baca juga: 3 Saham BUMN dengan Harga di Bawah Rp 500 Per Lembar

2. Dalam 5 tahun terakhir, pendapatan yang diraih Kimia Farma cenderung meningkat

Dalam 5 tahun terakhir, pendapatan yang diraih Kimia Farma cenderung meningkat (idx.co.id)

Dari tahun 2014 hingga 2018, pendapatan yang dicetak Kimia Farma cenderung meningkat tiap tahunnya.

Seperti dikutip dari IDX, BUMN obat-obatan ini mencetak pendapatan atau revenue sebesar Rp 4,52 triliun pada tahun 2014.

Pada 2015, angka revenue yang dihasilkannya naik menjadi Rp 4,86 triliun. Begitu juga tahun 2016 dan 2017, ada peningkatan dari revenue yang dihasilkan Kimia Farma. Terakhir pada 2018, Kimia Farma membukukan revenue sebesar Rp 8,09 triliun.

Peningkatan juga ditunjukan dalam raihan profit Kimia Farma. Pada 2014, BUMN ini mencetak profit sebesar Rp 236 miliar.

Angka ini meningkat terus setiap tahunnya sampai tahun 2018. Pada laporan keuangan terakhir, Kimia Farma memperoleh profit sebesar Rp 401 miliar.

3. Dengan kapitalisasi pasar Rp 18 triliun, saham Kimia Farma termasuk saham blue chips

Saham Kimia Farma termasuk saham blue chips

Berkat harganya sekarang, saham Kimia Farma digolongkan sebagai saham blue chips. Ini bisa dilihat dari kapitalisasi pasarnya yang mencapai Rp 18 triliun. Saham bisa digolongkan blue chips kalau kapitalisasi pasarnya di atas Rp 10 triliun.

Sekadar diketahui, kapitalisasi pasar adalah jumlah saham yang beredar dikalikan harga saham per lembarnya. Semakin tinggi harga saham dan banyaknya lembaran saham yang beredar, semakin besar peluang saham itu sebagai saham blue chips.

Saham blue chips termasuk buruan para investor. Pasalnya, perusahaan yang sahamnya blue chips punya arus kas yang bagus, bisnis yang kuat, dan pertumbuhan yang konsisten. Gak heran kalau cukup banyak investor yang berminat dengan saham Kimia Farma.

4. Mayoritas dimiliki negara, sisanya bisa dimiliki masyarakat umum

Saham Kimia Farma mayoritas dimiliki negara, sisanya masyarakat umum (kimiafarma.co.id)

Pemerintah Indonesia tercatat sebagai pemegang terbesar dari saham Kimia Farma. Kepemilikan negara atas saham BUMN ini mencapai 5 miliar lembar atau 90,025 persen.

Sementara sisanya dilepas ke publik alias bisa dimiliki masyarakat. Jumlah lembaran saham yang dirilis ke publik sekitar 554 juta lembar atau sekitar 9,975 persen.

5. Menaungi enam anak perusahaan

Saham Kimia Farma menaungi enam anak perusahaan (shutterstock)

Perkembangan bisnis Kimia Farma tergantung pada perkembangan anak-anak perusahaannya. Sejauh ini, ada enam anak perusahaan yang berada di bawah naungan Kimia Farma.

Berikut, daftar anak perusahaan yang dikelola Kimia Farma:

Anak Perusahaan Bidang Usaha
PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) Bahan baku obat
PT Kimia Farma Apotek (KFA) Apotek (ritel farmasi)
PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) Distribusi obat-obatan
PT Sinkona Indonesia Lestari Pabrik kina
PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) Pengelolaan dan pengembangan laboratorium klinik
PT Asuransi InHealth Asuransi kesehatan

6. Pergerakan harga saham tampak uptrend

Dengan melihat indikator moving average di aplikasi ChartNexus, harga saham Kimia Farma tampak bergerak naik 100 hari ataupun 200 hari ke depan. Itu berarti, saham tersebut menarik dimiliki dalam waktu lebih dari tiga bulan.

Kalau kamu berencana pengin berinvestasi saham, KAEF ini menjadi salah satu saham yang direkomendasikan.

Pasalnya, selain fundamentalnya yang bagus, saham KAEF secara teknikal juga terbilang aman. Jadi, kecil kemungkinannya harga saham ini merosot terlalu dalam.

Itulah beberapa fakta mengenai performa saham Kimia Farma. Setelah mengetahui fakta-fakta di atas, apakah kamu tertarik buat menginvestasikan uangmu ke saham blue chips ini? (Editor: Chaerunnisa)