Hitungan Kalkulator KPR Bank Keliru, Kok Bisa?

Kalkulator KPR (kredit pemilikan rumah) sering dijadikan rujukan untuk jumlah cicilan kredit hunian kita. Tapi jangan salah. Bahkan hitungan kalkulator bank saja bisa keliru lho. Artinya, kita gak bisa percaya begitu saja terhadap angka cicilan yang diberikan bank.

Umumnya, jumlah cicilan itu tertera dalam pamflet atau brosur yang disediakan pengembang properti baru. Namun jika kita berniat cari properti second, hitungan itu baru ada setelah kita mencarinya ke bank terkait.

Setiap bank penyalur kredit umumnya punya kalkulator cicilan KPR di situsnya. Harapannya, masyarakat gak perlu datang ke kantor bank hanya untuk menanyakan perkiraaan jumlah cicilan. Tapi ada kalanya orang yang mendapat data cicilan itu lantas kecewa.

Sebab, setelah dibela-belain cuti kerja, antre lama, eh ternyata hitungan kalkulator bank keliru. Kasihan pasti melihatnya.

Yang jadi pertanyaan, kok bisa-bisanya hitungan cicilan KPR bank keliru. Kelirunya bikin berat nasabah lagi, karena cicilan lebih besar daripada perkiraan. Jangan-jangan itu strategi bank buat menarik nasabah untuk ambil KPR di tempatnya.

Weits, jangan buruk sangka yak.

Hitungan kalkulator KPR bank sangat mungkin berbeda dengan aslinya karena banyak hal. Faktor di luar kuasa bank yang sering jadi penyebab. Artinya, gak ada kesengajaan bank untuk mengakali hitung-hitungan simulasi kreditnya.

Pada suatu saat nanti, mungkin bakal ada gadget atau program kalkulator KPR yang valid (en.wikipedia.org)

Berikut ini beberapa faktor yang dimaksud:

Baca juga: Ini Tips yang Wajib Kamu Lakukan agar Aplikasi Pengajuan KPR BTN Bisa Diterima

1. Kalkulator KPR bisa berbeda jika bunga berubah

Bank umumnya menerapkan bunga floating (mengambang) untuk KPR yang diberikan. Bunga fixed (tetap) mungkin hanya disediakan untuk 2-3 tahun pertama.

Bunga floating berarti angka bunga bisa berubah-ubah tergantung banyak hal. Di antaranya suku bunga acuan yang dipatok Bank Indonesia. Makin tinggi bunga acuan, makin naik pula bunga KPR.

Perubahan bunga bisa juga disebabkan oleh persaingan dengan bank lain. Demi kompetisi yang sehat antar-bank, gak mungkin suatu bank menurunkan bunga ketika bank lain menaikkannya. Paling pol bunganya dibikin tetap.

Hal inilah yang membuat hitungan kalkulator KPR bank keliru. Sebab, bunga yang dipakai dalam simulasi tersebut sudah berubah, bahkan jauh melonjak dari nilai awal yang digunakan untuk menghitung cicilan.

[Baca: Sebelum Milih KPR, Pelajari Dulu Suku Bunga Acuannya]

2. Appraisal dari bank rendah

Setiap bank pasti punya kalkulator KPR, tinggal ditanyakan saja saat mau ambil rumah (beritasatu.com)

Simulasi KPR bank lazimnya digunakan sebelum mengajukan KPR. Misalnya kita mau beli rumah seharga Rp 500 juta. Maka, dalam simulasi, kita wajib memberikan DP setidaknya 20 persen.

Berarti uang muka yang kita bayarkan adalah sebesar Rp 100 juta. Dengan demikian, bank semestinya memberikan pinjaman Rp 400 juta. Begitu menurut aturan hitungan awalnya.

Namun bisa saja plafon yang diberikan bank ternyata lebih kecil. Penyebabnya, nilai rumah yang ditaksir saat appraisal dipandang gak sampai Rp 500 juta. Hanya Rp 400 juta, misalnya.

Hal itu berarti hitungan kalkulator KPR awal gak bisa dipakai alias keliru lantaran gak sesuai dengan kondisi di lapangan. Kita mesti menghitung lagi cicilan menggunakan data terbaru dari hasil appraisal.

[Baca: Biar Nggak Merasa Terjebak, Pahami Simulasi Bunga Fixed KPR Flat, Efektif, dan Anuitas]

3. Telat bayar cicilan

Kalkulator KPR sering pakai kata “ilustrasi”, karena memang sifatnya hanya gambaran (livemint.com)

Kalau yang satu ini, kesalahan murni ada di pihak kita selaku nasabah. Bila telat bayar cicilan, apalagi berturut-turut, jelas akan berdampak fatal terhadap angka angsuran per bulan.

Kita jadi mesti menambah biaya cicilan untuk membayar denda. Dengan demikian, hasil simulasi KPR yang awalnya bisa jadi patokan gak lagi dapat dipegang.

Jumlah cicilan bakal lebih besar selama terus terjadi keterlambatan atau mungkin kurang bayar. Angka angsuran akan kembali seperti semula begitu perkara denda sudah tuntas semuanya, sehingga angka cicilan kembali murni tanpa tambahan denda.

Perlu digarisbawahi bahwa pemaparan ini berlaku untuk hitungan cicilan KPR dengan bank konvensional. Bank syariah mungkin hanya berkaitan dengan poin kedua dan ketiga.

Sebab, KPR bank syariah umumnya menerapkan bunga fixed, bukan floating. Ada rumus tersendiri yang digunakan dalam simulasi KPR bank syariah.

Namun keduanya sama, yakni hanya berfungsi sebagai patokan awal, bukan permanen. Angka-angka yang muncul dari kalkulator KPR itu hanyalah prediksi untuk memudahkan penyiapan dana, bukan rujukan utama.

[Baca: Informasi tentang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) – DuitPintar]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Phasellus cursus rutrum est nec suscipit. Ut et ultrices nisi. Vivamus id nisl ligula. Nulla sed iaculis ipsum.

Contact

Company Name

Address