Sepak Terjang Boris Johnson, Eks Wartawan yang Kini Jadi PM Inggris

Boris Johnson terpilih sebagai Perdana Menteri Inggris yang baru menggantikan Theresa May yang mundur karena usulannya terkait Inggris keluar dari Uni Eropa tak kunjung tercapai. Itu terjadi lantaran, parlemen berkali-kali melakukan penolakan terhadap usulan May. 

Dalam memperebutkan kursi PM, Boris harus bertarung dengan empat kandidat lainnya seperti   Menlu Jeremy Hunt, Menkes Matt Hancock, Menaker Esther McVey, dan Menteri Perkembangan Internasional Rory Stewart. 

Partai Konservatif pun langsung melakukan pemungutan suara. Di putaran pertama, Johnson dan Hunt unggul dengan perolehan suara terbanyak. Pemungutan suara kedua pun diselenggarakan pada 18 Juli 2018 lalu. 

Hasil dari putaran kedua, Johnson unggul telak dengan perolehan suara 92.153 suara dan Hunt hanya memperoleh 46.656 suara. 

Sebagai tindak lanjut dari hasil tersebut, Johnson siap mengambil alih kekuasaan dari May per 24 Juli 2019. 

Sebelum lebih jauh melihat kinerjanya, MoneySmart ingin mengulas kembali sepak terjang Perdana Menteri Inggris yang baru ini:

Pernah dipecat jadi wartawan gara-gara memalsukan kutipan narasumber 

Perdana Menteri Inggris
Perdana Menteri Inggris (Instagram/borisjohnsonmp)

Boris Johnson lahir di New York, Amerika Serikat pada 19 Juni 1964. Masa kecilnya dihabiskan di New York, London, dan Brussels, hingga akhirnya menamatkan pendidikannya di Oxford University. 

Sebelum menjadi Perdana Menteri Inggris yang baru, karier profesionalnya dimulai dengan bekerja sebagai seorang reporter di The Times pada tahun 1987. Sayangnya, baru dua tahun kerja, dia harus rela dipecat karena ketahuan mengarang kutipan narasumber. 

Johnson langsung pindah jadi koresponden The Daily Telegraph tahun 1989 sampai 1994. Di sana dia bertugas meliput tentang politik keamanan di kawasan Eropa. Karena kinerjanya bagus, ia diangkat menjadi asisten editor di tahun di tahun 1994-1999. 

Selain bekerja untuk The Daily Telegraph, Johnson juga menjadi kolumnis politik di The Spectator. Di tahun 1999, dia pun diangkat menjadi redaktur di The Spectator hingga tahun 2005. 

Baca juga: 4 Anak Pejabat dengan Gaya Hidup Mewah, Nomor 1 Paling Jetset!

Sempat gagal memperebutan kursi parlemen

perdana menteri inggris
Perdana Menteri Inggris (Instagram/borisjohnsonmp)

Karena kecintaannya terhadap dunia politik, Boris Johnson akhirnya terjun langsung ke politik praktis pada tahun 1997. 

Johnson mencalonkan diri menjadi anggota parlemen daerah pilih Clwyd South dari Partai Konservatif, tapi kalah telak dari kandidat Partai Buruh, Martyn Jones.

Meski gagal, dia masih menjalani kesibukannya sebagai kolumnis dan pembawa acara di program televisi BBC, Have I Got News for You. 

Selama muncul di TV, dia selalu memberikan pandangan-pandangan yang unik dan nyeleneh hingga akhirnya dikenal masyarakat Inggris secara luas. 

Bermodalkan ketenarannya itu, di tahun 2001, dia mencoba peruntungan lagi untuk bisa masuk ke parlemen. Tapi, kali ini maju lewat daerah pilih Henley-on-Thames. 

Hasilnya, perolehan suara mayoritas didapatkannya. Tahun 2005, dia kembali lagi maju ke kontestasi parlemen dan berhasil mempertahankan kursinya. 

Jadi Wali Kota London dan pernah sepedaan bareng Jokowi-Ahok 

perdana menteri inggris
Perdana Menteri Inggris (Instagram/borisjohnsonmp)

Di tahun 2007, Boris Johnson memutuskan maju ke kontestasi perebutan kursi Wali Kota London. 

Selama setahun berkampanye, akhirnya di tahun 2008 dia keluar dengan perolehan suara mayoritas mengalahkan petahana dari Partai Buruh Ken Livingstone. Otomatis setelah terpilih, jabatannya di kursi parlemen dicabut. 

Setelah mau habis masa jabatannya di periode pertamanya, Johnson kembali maju untuk periode kedua tahun 2012. 

Penantangnya masih sama, yaitu Livingstone yang berusaha kembali merebut jabatannya menjadi orang nomor satu di London. Lagi-lagi, duel dua tokoh politik itu dimenangkan Johnson. 

Johnson memiliki pengalaman tersendiri dengan Indonesia, khususnya di Jakarta. Saat masih menjabat jadi Walikota London ia pernah mengunjungi Jakarta yang saat itu masih dipimpin oleh Jokowi. 

Sosok yang akan segera dilantik menjadi Perdana Menteri Inggris ini diajak bersepeda di kawasan Car Free Day (CFD) bersama Jokowi dan Ahok. Dia pun memuji kebijakan pemprov soal CFD dan berencana menerapkannya langsung di London.

Jadi Menteri Luar Negeri PM Theresa May 

perdana menteri inggris
Perdana Menteri Inggris (Instagram/borisjohnsonmp)

Di tahun 2016, Perdana Menteri Inggris saat itu, Theresa May menunjuk Boris Johnson sebagai Menteri Luar Negeri. Selama menjabat sebagai Menlu, ia turut menjaga hubungan baik antara Inggris dengan AS. 

Bahkan, ketika keputusan AS untuk menggempur Rezim Bashar al-Assad di Suriah pada tahun 2018 lalu, Johnson termasuk orang yang pro dan mendukung penuh upaya AS tersebut. 

Padahal banyak negara-negara maju lainnya dan juga anggota parlemen di Inggris yang menolaknya. 

Itulah perjalanan karier dari Boris Johnson dari wartawan sampai akhirnya terpilih jadi Perdana Menteri Inggris. Di awal-awal kepemimpinannya ini, dia telah berjanji untuk menyelesaikan permasalahan Brexit sebelum tanggal 31 Oktober mendatang. 

Demi memenuhi janjinya tersebut, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan parlemen bahwa Brexit menguntungkan bagi Inggris. (Editor: Chaerunnisa)